Apa sih yang salah di negeri kita ini?
Itulah pertanyaan yang harusnya
bisa dijawab oleh kita semua khususnya pemerintah kita. Dalam sebuah nyanyian, Koes Plus memperlihatkan betapa tanah kita tanah yang begitu kaya, tanah
“surga”. Namun sekarang peribahasa “lebih baik hujan batu di negeri sendiri”
hampir tak berlaku bagi masyarakat kita. Mereka lebih banyak memilih menjadi
seorang TKI di negeri orang. Memang sih ada yang sukses, tapi ada pula yang
merana. Contoh saja, Satinah, warga Ungaran yang sekarang tinggal menunggu ajal
menjemputnya karena didakwa melakukan pembunuhan terhadap majikannya di arab
saudi. Betapa sakitnya kita melihat warga negara indonesia, sebagai pahlawan
devisa (katanya) yang berjuang membantu perekonomian negara, diperlakukan
seperti kerbau yang dicocok hidungnya tanpa adanya campur tangan pemerintah
yang berarti.
bukan berarti semua TKI kita yang sedang merantau di negeri sana di perlakukan tidak adil. namun jika ada seorang saja yang harus mati demi membela kehormatannya apakah pantas jika negara tidak berupaya dengan sesungguhnya untuk membebaskan mereka? apakah jika orang yang membela kehormatannya lalu dibunuh oleh majikannya sama dengan orang itu membela kehormatan negaranya? atau hanya semata-mata membela dirinya sendiri dan pemerintah tak harus campur tangan?
Tak usah habis pikir, bangsa yang
(katanya) besar ini, memang lagi sekarat. Tidak punya daya tawar ke negara
lain. Hanya di injak-injak tanpa adanya perlawanan yang berarti. Coba deh
bayangkan, bagian negara kita telah diklaim negara lain (Sipada-Ligitan), dan
hampir saja lagu daerah dan tari daerah bahkan budaya kita di klaim kembali
oleh negara lain. Betapa tidak miris kita kalau memikirkan hal itu.
Yang terbaru adalah perseteruan
dua pengurus sepakbola Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai pengurus yang
sah. Hal ini menambah jumlah kesekaratan bangsa kita. Sepakbola, yang dari dulu
menjadi kebanggan masyarakat indonesia telah ternodai oleh urusan politik yang
meretakkan sepakbola kita.
Ah kapan ya bangsa kita beres?
Sebuah pertanyaan yang klasik.


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !