Rabu 19
Desember 2012, saya tak sengaja melihat tumpukan koran (kalo boleh sebut merek
: Kompas) di ruang perpus intitut IAIN
walisongo. Ada sekitar lima orang yang
dudk dibangku tempat membaca koran terbitan tiap harian itu. Koran itu
terbiarkan oleh kelima orang itu entah telah dibaca atau mencari koran-koran
tantang materi yang mereka sukai atau
apapun, tapi koran yang satu ini tergeletak tak tersentuh disamping seorang
mahasiswa. Itu pasti koran hari ini (biasanya koran hari ini selalu di jepit
pinggir kirinya dengan alumunium), tanpa ragu dan risih kuambil koran yang
tergeletak tersebut (biasanya orang akan ragu untuk mengambil koran karena
dekat dengan orang atau paling tidak mereka akan mengatakan “permisi” atau “punten”),
saya toh tidak merasa perlu melakukan hal tersebut karena yakin mereka tidak
akan sadar karena mereka sedang sibuk dengan bacaan mereka dan orang yang
sedang membaca biasanya tidak mau diganggu.
Mata saya
segera tertuju pada bagian depan, di baris terakhir dekat dengan baris iklan
jam tangan yang sungguh mewah. Kalo ku taksir harga jam tangan itu kira-kira
lebih dari sejuta. Nah saya tertarik dengan judul yang –kalo zaman
sekarang—begitu menggelitik di telinga, dan sangat jarang terjadi. Betapa tidak,
judulnya saja “penemuan uang 100 juta: kejujuran yang semakin langka itu masih
ada.” Pikiran saya langsung dibawa kepada seseorang yang luar biasa. Tak pakai
lama berfikir langsung saya baca tuh koran. Dan tepat, saya menemukan sesosok
orang yang begitu luar biasa yang benar-benar jarang ditemui di zaman sekarang
ini.
Bang Napi di
RCTI selalu bilang, “Kejahatan bukan hanya terjadi karena ada niat dari
pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan, Waspadalah! Waspadalah!” . nah
sebagai seorang pegawai bank berpangkat rendah yang hanya bergaji 2,9 juta rupiah
perbulan, siapa yang tak tertarik oleh segepok uang 100 juta rupiah di depan
mata tanpa ada yang melihat? Apa lagi uang itu jelas di depan mata tak ada yang
punya. Tinggal ambil di taruh dalam tas apa sulitnya? Tapi di saat seperti itu
lah ujian kekuatan keimanan manusia diuji. Sungguh pasti ada dalam hati “Ini uang
yang sangat banyak, trus mau aku apakan?”, lalu Agus dengan sikap mulia
mengambil jalan memanggil satpam. Sebenarnya toh bisa juga mereka berdua bersekongkol dang
membagi hasil, tapi agus tetap memilih mengembalikan uang yang ditemukannya.
Ini merupakan dua hasil ujian dari tuhan yang sangat patutu di contoh.
Bagaimana
tidak, disaat elit bangsa ini berjibaku dan saling sikut kanan kiri untuk
mendapatkan uang korupsi, disaat bangsa ini mulai bersama-sama bangun membangun
kebudayaan “Wani Piro?”, agus mengambil langkah tegas yang jarang diambil oleh
orang lain. Pegawai rendah Bank Syari’ah Mandiri ini lalu diberi apresiasi atas
keteladanannya yang begitu luar biasa.
Tentu saja
keberanian bersikap jujur patut diberi sebuah penghargaan. Agus menentang peribahasa
yang sering diucap si masyarakat “Jujur Itu Ajur” dan mengubah nya menjadi “Jujur
Itu Keren.” Coba bayangkan jika Anda berada dalam posisi tersebut? Apakah kita
akan menjadi Agus atau menjadi Gayus Tambunan, dan muncul sebagai “pembohong ”
baru?. Pasti kebanyakan kita akan memilih pilihan yang kedua yang tersebut di
atas. Keberkahan memang dasar dari mencari nafkah yang akan kita makan. Dan
saya percaya orang semacam ini akan dilebihkan rejekinya oleh Allah. Semoga.


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !