Headlines News :
Home » » Jadi Pegawai Jujur

Jadi Pegawai Jujur

Written By Unknown on Minggu, 06 Januari 2013 | 00.13


Rabu 19 Desember 2012, saya tak sengaja melihat tumpukan koran (kalo boleh sebut merek : Kompas) di ruang perpus intitut  IAIN walisongo.  Ada sekitar lima orang yang dudk dibangku tempat membaca koran terbitan tiap harian itu. Koran itu terbiarkan oleh kelima orang itu entah telah dibaca atau mencari koran-koran tantang materi  yang mereka sukai atau apapun, tapi koran yang satu ini tergeletak tak tersentuh disamping seorang mahasiswa. Itu pasti koran hari ini (biasanya koran hari ini selalu di jepit pinggir kirinya dengan alumunium), tanpa ragu dan risih kuambil koran yang tergeletak tersebut (biasanya orang akan ragu untuk mengambil koran karena dekat dengan orang atau paling tidak mereka akan mengatakan “permisi” atau “punten”), saya toh tidak merasa perlu melakukan hal tersebut karena yakin mereka tidak akan sadar karena mereka sedang sibuk dengan bacaan mereka dan orang yang sedang membaca biasanya tidak mau diganggu.
Mata saya segera tertuju pada bagian depan, di baris terakhir dekat dengan baris iklan jam tangan yang sungguh mewah. Kalo ku taksir harga jam tangan itu kira-kira lebih dari sejuta. Nah saya tertarik dengan judul yang –kalo zaman sekarang—begitu menggelitik di telinga, dan sangat jarang terjadi. Betapa tidak, judulnya saja “penemuan uang 100 juta: kejujuran yang semakin langka itu masih ada.” Pikiran saya langsung dibawa kepada seseorang yang luar biasa. Tak pakai lama berfikir langsung saya baca tuh koran. Dan tepat, saya menemukan sesosok orang yang begitu luar biasa yang benar-benar jarang ditemui di zaman sekarang ini.
Bang Napi di RCTI selalu bilang, “Kejahatan bukan hanya terjadi karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan, Waspadalah! Waspadalah!” . nah sebagai seorang pegawai bank berpangkat rendah yang hanya bergaji 2,9 juta rupiah perbulan, siapa yang tak tertarik oleh segepok uang 100 juta rupiah di depan mata tanpa ada yang melihat? Apa lagi uang itu jelas di depan mata tak ada yang punya. Tinggal ambil di taruh dalam tas apa sulitnya? Tapi di saat seperti itu lah ujian kekuatan keimanan manusia diuji. Sungguh pasti ada dalam hati “Ini uang yang sangat banyak, trus mau aku apakan?”, lalu Agus dengan sikap mulia mengambil jalan memanggil satpam. Sebenarnya toh  bisa juga mereka berdua bersekongkol dang membagi hasil, tapi agus tetap memilih mengembalikan uang yang ditemukannya. Ini merupakan dua hasil ujian dari tuhan yang sangat patutu di contoh.
Bagaimana tidak, disaat elit bangsa ini berjibaku dan saling sikut kanan kiri untuk mendapatkan uang korupsi, disaat bangsa ini mulai bersama-sama bangun membangun kebudayaan “Wani Piro?”, agus mengambil langkah tegas yang jarang diambil oleh orang lain. Pegawai rendah Bank Syari’ah Mandiri ini lalu diberi apresiasi atas keteladanannya yang begitu luar biasa.
Tentu saja keberanian bersikap jujur patut diberi sebuah penghargaan. Agus menentang peribahasa yang sering diucap si masyarakat “Jujur Itu Ajur” dan mengubah nya menjadi “Jujur Itu Keren.” Coba bayangkan jika Anda berada dalam posisi tersebut? Apakah kita akan menjadi Agus atau menjadi Gayus Tambunan, dan muncul sebagai “pembohong ” baru?. Pasti kebanyakan kita akan memilih pilihan yang kedua yang tersebut di atas. Keberkahan memang dasar dari mencari nafkah yang akan kita makan. Dan saya percaya orang semacam ini akan dilebihkan rejekinya oleh Allah. Semoga.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Blogger templates

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. de-Jure - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template